Bayangan Masa Lalu
Bab 5 dari Novel Komplek Mantan
Jari Ari berhenti sejenak di atas layar. Dia ragu-ragu, tapi akhirnya memutuskan untuk mengetik nama archa di kolom pencarian. Profil mantan pacarnya muncul, dan Ari mulai menjelajahi postingan-postingan terbaru archa.
Ari bergumam pelan, "I-archa..."
Matanya terpaku pada sebuah status yang archa posting beberapa hari lalu:
"Terkadang hidup tidak berjalan sesuai rencana. Tapi aku percaya, setiap akhir adalah awal yang baru. #NewChapter"
Ari terdiam, pikirannya melayang ke dua tahun lalu. Dia teringat saat archa memutuskan hubungan mereka, mengaku telah jatuh cinta pada Rayanas, teman mereka. Rasa sakit itu kembali menyeruak, meski tidak sekuat dulu.
"Fa-Ari, focus," dia mengingatkan dirinya sendiri. "Ka-kamu sudah punya Dellvina sekarang."
Ari menggelengkan kepala, berusaha mengusir kenangan lama. Dia kembali men-scroll layar ponselnya, mencoba mengalihkan pikiran. Tiba-tiba, sebuah nama faMiliar muncul: salsa.
"sal-salsa?" Ari bergumam, terkejut.
Tanpa sadar, dia membuka profil salsa, mantan pacarnya yang juga tunanetra. Ari membaca bio salsa yang tertulis: "Single mom, embracing new beginnings."
Ari mengerutkan kening. "sal-salsa juga... janda?"
Dia teringat info yang didapatnya dari media sosial salsa beberapa waktu lalu. salsa memang sudah bercerai dari suaminya.
Ari terdiam, pikirannya berkecamuk. "Ke-kenapa mereka berdua jadi janda di waktu yang hampir bersamaan?"
Dia mencoba mengingat-ingat hubungannya dengan salsa dulu. Mereka putus karena salsa merasa tidak siap dengan kondisi Ari yang tunadaksa. Saat itu, Ari merasa terpukul, tapi sekarang dia bisa memahaMi keputusan salsa.
"Mu-mungkin ini yang namanya karma," Ari bergumam pelan, lalu segera menyesali perkataannya. "Ti-tidak, tidak boleh berpikir begitu."
Ari menutup aplikasi media sosialnya dan menarik napas dalam-dalam. Dia merasa bersalah telah melihat-lihat profil mantan pacarnya, apalagi sampai berpikir tentang karma.
"A-aku harus fokus pada Dellvina," Ari mengingatkan dirinya. "Di-dia yang terbaik untukku."
Ari bangkit dari kursinya, mengambil tas kerjanya. Sebelum keluar ruangan, dia berhenti sejenak di depan cermin kecil di dinding.
"Fa-Ari, kamu sudah bahagia sekarang," dia berkata pada bayangannya sendiri. "Ja-jangan lihat ke belakang lagi."
Dengan tekad baru, Ari melangkah keluar ruangan. Dia memutuskan untuk membeli bunga untuk Dellvina dalam perjalanan pulang, sebagai ungkapan rasa syukur dan cintanya.
Saat berjalan menuju parkiran, Ari tersenyum. Meski masa lalunya tidak selalu indah, dia bersyukur karena sekarang telah menemukan kebahagiaannya bersama Dellvina. Dan itu, baginya, jauh lebih berharga dari apapun.