Pagi itu, Ari dan Dellvina duduk berhadapan di meja makan. Aroma omelet sayur dan kopi menguar di udara, menambah kehangatan suasana.
Dellvina: "Gimana omeletnya, Mas? Enak?"
Ari mengangguk sambil mengunyah. "E-enak banget, De. Kamu memang jago masak."
Dellvina tersenyum puas. "Syukurlah kalau enak. Oh iya, Mas, kita belum bahas lebih lanjut soal pindahan ke Bandung nih. Udah ada info baru?"
Ari meletakkan sendoknya, wajahnya berbinar. "A-ada kabar bagus, De. Se-semalam aku dapat email dari HRD."
Dellvina langsung antusias. "Kabar apa, Mas? Cerita dong!"
Ari: "Ka-kantor nyediain rumah buat kita di Bandung."
Dellvina terpekik kegirangan. "Serius? Wah, itu sih jackpot namanya!"
Ari mengangguk. "I-iya, rumahnya di komplek yang dekat sama kantor baruku nanti."
Dellvina: "Aduh, senangnya! Berarti kita nggak perlu pusing-pusing cari rumah lagi dong?"
Ari: "Be-betul. Tapi kita tetap harus survei dulu, De. Mastiin rumahnya nyaman buat kita."
Dellvina mengangguk setuju. "Iya sih, bener juga. Tapi tetep aja ini kabar yang super duper menggembirakan! Eh, ngomong-ngomong..."
Ari: "Ke-kenapa, De?"
Dellvina menepuk dahinya. "Astaga, kita belum kasih tau orang tua kita soal ini!"
Ari tersenyum. "Oh iya, be-bener juga. Ma-mau telepon sekarang?"
Dellvina mengangguk semangat. "Iya, yuk! Kamu telepon orangtuamu, aku telepon orangtuaku ya."
Mereka berdua mengambil ponsel masing-masing. Dellvina menelepon ibunya lebih dulu.
Dellvina: "Halo, Bu? Selamat pagi!"
Ibu Dellvina: "Pagi, Dellvina sayang. Ada apa nih pagi-pagi telepon?"
Dellvina: "Ada kabar gembira, Bu! Mas Ari dapat mutasi kerja ke Bandung!"
Ibu Dellvina: "Wah, selamat ya! Kapan kalian pindah?"
Dellvina: "Sekitar dua bulan lagi, Bu. Oh iya, kantor Mas Ari juga nyediain rumah untuk kaMi di sana."
Ibu Dellvina: "Alhamdulillah, itu sih berkah banget namanya. Ibu turut senang, Del."
Dellvina: "Makasih, Bu. Nanti kalau udah pindah, Ibu main ke Bandung ya?"
Ibu Dellvina: "Pasti dong. Ya udah, salamkan buat Ari ya. Hati-hati di jalan kalau nanti pindahan."
Dellvina: "Siap, Bu. Makasih ya, Bu."
Sementara itu, Ari juga sedang berbicara dengan ayahnya.
Ari: "Ha-halo, Yah. Se-selamat pagi."
Ayah Ari: "Pagi, Ari. Tumben telepon pagi-pagi. Ada apa, Nak?"
Ari: "A-aku mau kasih tau, a-aku dapat mutasi ke Bandung, Yah."
Ayah Ari: "Wah, selamat ya, Nak! Itu kemajuan bagus buat karirmu."
Ari: "Ma-makasih, Yah. Ka-kantor juga nyediain rumah di sana."
Ayah Ari: "Subhanallah, itu rezeki namanya, Ari. Ayah bangga sama kamu."
Ari tersenyum haru. "Ma-makasih, Yah. A-aku juga berkat doa Ayah dan Ibu."
Ayah Ari: "Sama-sama, Nak. Kapan kalian berangkat?"
Ari: "Se-sekitar dua bulan lagi, Yah."
Ayah Ari: "Baiklah. Hati-hati ya kalau pindahan nanti. Salam buat Dellvina."
Ari: "Si-siap, Yah. Te-terima kasih."
Setelah menutup telepon, Ari dan Dellvina saling memandang dengan senyum lebar.
Dellvina: "Gimana, Mas? Orangtuamu senang?"
Ari mengangguk. "Se-senang banget. Ka-kalau orangtuamu?"
Dellvina: "Sama, senang juga. Mereka mau main ke Bandung kalau kita udah pindah nanti."
Ari: "Wa-wah, asyik dong. Ki-kita bisa ajak mereka jalan-jalan."
Dellvina mengangguk antusias. "Iya, pasti seru! Eh, ngomong-ngomong..."
Ari: "A-ada apa lagi, De?"
Dellvina nyengir. "Kita belum bikin daftar barang yang mau dibawa nih. Yuk, mulai sekarang?"
Ari tertawa. "Bo-boleh. Tapi ha-habisin sarapannya dulu ya."
Dellvina mengangguk setuju. "Siap, Kapten! Ayo kita selesaikan Misi sarapan dulu!"
Mereka berdua tertawa, melanjutkan sarapan dengan hati yang ringan dan penuh semangat, siap menghadapi petualangan baru yang menanti di Bandung.