Pelukan Sang Mama
Malam itu, ketika hatiku terasa retak, Sebagian kisah hidupku direnggut oleh semesta, Dunia berputar dengan irama yang berbeda, Sejak saat itu, aku harus melangkah sendiri. Pintu kamarku terbuka perlahan, Sosok Mama tampak dengan wajah penuh tanya, "Ada apa?" tanyanya dengan suara lembut yang menggetarkan hati, Terbata-bata, aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Ekspresi iba segera terpancar di wajahnya, Nafas berat dikeluarkannya, seolah merasakan apa yang kurasakan, Dengan langkah perlahan, ia masuk ke kamarku. "Bagaimana ini bisa terjadi?" tanyanya dengan berat, Aku berusaha menjelaskan apa yang telah kualami, Nasihat bijak keluar dari bibirnya, Berharap menjadi obat penenang di saat itu. Lalu, sebuah pelukan hangat kudapatkan darinya, Sebagai puncak kesedihan di hari itu, "Menangislah sepuasnya!" serunya, Aku yang menahan tangis, seketika runtuh dan terisak. Malam itu menjadi saksi bisu, Di mana anak laki-laki pertama menunjukkan sisi lemahnya di depan sang Mama, Seakan berkata bahwa dunia tak seindah yang ia bayangkan.