Daksa, lupa pada batas diri.

Diterbitkan: 10 Mei 2026 | Kategori: Puisi
Daksa, lupa pada batas diri.

Aku merasa bagai seorang pendatang asing di dunia ini,
Dunia di mana suara menjadi penafsir segala makna,
Menjadi penentu utama dalam merajut fantasi.
Namun aku terabaikan, lupa pada apa yang kumiliki.

Aku terjebak dalam pertanyaan yang berkecamuk,
Apakah aku terlalu percaya diri berlabuh di dunia ini?
Apakah aku berkeliru jika ingin menjadi bagian dari mereka?
Dan apakah aku salah jika mendambakan menjadi milik salah satu dari mereka?
Padahal, aku hanya ingin melengkapi apa yang kurang,
Dan mencari telinga yang mengerti, yang dapat menjadi lisan bagi hatiku.

Karena aku pernah merajut kisah dengan mereka yang memiliki raga sempurna,
Namun telinga mereka tak mampu menjadi pelabuhan bagi keluh kesahku,
Untuk segala cerita yang ingin kusampaikan,
Yang tak mampu kutuangkan hanya melalui pesan singkat.

Aku hanya mendambakan suara hatiku didengar, lalu dipahami,
Dan aku menemukannya di dunia ini.
Namun, dunia seakan berbisik,
"Hey, bukan di sini tempatmu berlabuh."

Lalu, ke mana lagi langkah ini harus terhenti,
Untuk menemukan telinga yang selalu kubayangkan,
Untuk menemui seseorang yang selalu kucari,
Untuk mengisi seluruh kekosongan yang ada.